SIAGA BENCANA (BANYAK NYAWA YANG BISA DISELAMATKAN !)

Musim penghujan sudah tiba, banyak masalah yang harus kita hadapi, khususnya bagaimana mencegah datangnya bencana yang menimpa kita. Jika dalam satu hari turun hujan terus menerus, sungai meluap pastilah banjir dan longsor merupakan ancaman bagi sebagian masyarakat. Ada juga yang namanya banjir kiriman. Kadang tidak hujanpun di sebagian wilayah tergenang air. Memang kedengarannya aneh, tapi itulah faktanya. Kalau bencana datang tiba-tiba dan masyarakat tidak siap mengahadapinya, tentunya banyak korban nyawa dan materil yang tidak terselamatkan. Siapa yang disalahkan? Bagaimana kemampuan kita mengatasi bencana?

Wilayah Indonesia Rawan Bencana
Pada waktu kita membaca, mendengar atau melihat berita mengenai bencana di Indonesia, biasanya terlintas dibenak kita bahwa bencana itu datang tidak dapat diprediksi dan sangat tiba-tiba. Padahal, dilihat dari frekwensi dan jenis bencana yang sering terjadi, Indonesia tergolong negara yang rawan bencana.
Kejadian bencana terus meningkat di wilayah Indonesia, data bencana dari BAKORNAS PB menyebutkan antara tahun 2003 – 2005 terjadi 1429 kejadian bencana. Dari seluruh bencana yang sering terjadi adalah banjir 34,1 % diikuti longsor 16 %. Tetapi bencana geologi (gempa dan tsunami serta gunung berapi hanya 6, 4 % bencana ini telah menimbulkan kerusakan yang luar biasa dan korban jiwa yang besar, terutama akibat gempa bumi yang diikuti oleh tsunami di Aceh tahun 2004 dan Nias tahun 2005.

Indonesia memiliki pulau-pulau besar, khususnya Pulau Jawa yang penduduknya sangat padat, dan memiliki sumber daya alam yang melimpah, tanah yang subur di lereng pegunungan dan sepanjang sungai, juga terancam resiko bencana. Bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, badai tropis, letusan gunung berapi dan angin puting beliung, misalnya terjadi karena aspek geografis, klimatologis dan geologis di wilayah ini, mengakibatkan kehancuran yang besar terhadap manusia terutama di pulau yang berpenduduk padat akan lebih besar resikonya dibandingkan wilayah yang berpenduduk tidak padat. Namun bencana juga dapat terjadi karena ulah manusia, seperti kebakaran hutan, pencemaran dan pengrusakan lingkungan. Selain itu wabah penyakit, kegagalan teknologi serta konflik horisontal maupun konflik vertikal, seperti terorisme, bisa menyebabkan masyarakat luas menjadi korban dan membuka peluang terjadinya bencana sosial.

Sebagai negara kepulauan yang terdiri dari lima pulau besar dan puluhan ribu pulau kecil, Indonesia memiliki lebih dari 500 gunung berapi dan 128 diantaranya masih terbilang aktif sewaktu-waktu dapat meletus. Selain itu, di Indonesia, peristiwa gempa bumi dipicu oleh tumbukan tiga lempeng, yaitu antara lempeng Indo-Australia dengan Eurasia membentuk sumber gempa bumi yang berlokasi di bawah laut seperti di sepanjang pantai barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa di utara dan selatan Flores, menerus ke Maluku Selatan. Di sebelah timur Indonesia, tumbukan antara lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia dan Eurasia menimbulkan gempa-gempa bumi di utara Papua Barat, Maluku, bagian timur dan utara Sulawesi. Sebaran gempa bumi lainnya terjadi sepanjang patahan aktif seperti di sepanjang patahan Sumatera, di Jawa antara lain patahan Cimandiri-Lembang, patahan Baribis-Pacitan, patahan Semarang, patahan kali Opak; di Sulawesi melalui patahan Palu-Koro, di Maluku sepanjang patahan Sula-Sorong, dan di Papua melalui patahan Nabire dan Tarera-Aiduna. Dengan kondisi seperti ini, Indonesia sebenarnya sangat menguntungkan karena memiliki banyak sumber daya alam, namun juga terancam oleh berbagai bencana alam.

Pengertian Bencana.
Bencana adalah gangguan fungsi terhadap masyarakat hingga melebihi kemampuan masyarakat tersebut untuk mengatasinya dengan kekuatan sendiri. Bencana secara umum diawali dengan adanya suatu fenomena yang mempunyai suatu potensi bahaya terhadap hidup dan kehidupan, kesejahteraan, dan aset-aset manusia (Smith, 1992:6; Carter, 1991:3).

Tetapi Undang Undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2007 mendefinisikan bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam & mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Bencana itu sendiri dapat diklasifikasikan ke dalam 2 kelompok, yaitu bencana yang disebabkan oleh alam: gempa bumi, tsunami, letusan gunung merapi, angin topan, badai. Kedua yang disebabkan oleh ulah manusia: longsor, kebakaran hutan, banjir, hama penyakit, penyakit menular, kecelakaan tranportasi, kegagalan teknologi, pencemaran lingkungan dan kerusuhan sosial.

Ada perbedaan yang jelas antara bencana alam dan bencana yang dibuat oleh manusia (Lyons, 1999). Bencana alam merupakan akibat dari kejadian alam yang luar biasa (ekstrim) sehingga menyebabkan adanya korban (luka/meninggal) kerusakan harta benda, prasarana dan/atau lingkungan. Bencana manusia adalah konflik sosial, perang, terorism, kegagalan teknologi, perencaaan spasial yang kurang baik, dan termasuk bencana teknis.

Kilas Balik

Kita tentu tidak akan pernah melupakan bencana pada 26 Desember tahun 2004 lalu, pukul 08.10 wib: gempa dahsyat dan tsunami melanda sebagian wilayah Aceh dan Nias-Sumatera Utara. Bencana ini menjadi rangkaian gempuran paling dahsyat setelah menit-menit sebelumnya melanda Srilanka dan Thailand. Sekitar 260.000 jiwa manusia tewas akibat tsunami terbesar sejak tahun 1964. Ribuan lainnya diperkirakan hilang sampai kini. Dari jumlah itu, 200.000 jiwa korban bencana di Aceh dan Nias. Sepanjang Januari s/d Juli 2006 tercatat sekitar 12 bencana yang tersebar di beberapa provinsi, antara lain pada tanggal 1 Januari 2006 gempa berkekuatan 5,8 SR mengguncang kawasan Nanggroe Aceh Darussalam. Gempa berkekuatan 5,1 SR menggucang Kota Bengkulu. Kemudian pada tanggal 27 Mei 2006 gempa tektonik di Bantul-Yogyakarta, dan Jawa tengah. Menyusul 17 Juli 2006 gempa tektonik berkuatan 6,8 SR mengguncang wilayah pantai selatan Pulau Jawa. Bencana susulan 19 Juli 2006 berkekuatan 6,2 SR mengguncang kawasan Banten pantai Barat Jawa. Kemudian tanggal 23 Juli 2006 berkekuatan 6,6 SR mengguncang Kota Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, serta Gorontalo dan Kota Mobago di Sulawesi Utara. Menyusul di Singaraja, Kabupaten Buleleng-Bali. Pada tahun 2007 gempa juga memporakporandakan Bengkulu. Bencana lain datang silih berganti seperti angin puting beliung dan banjir, longsor, dan kebakaran hutan di berbagai wilayah Indonesia. Entah berapa nyawa yang hilang diterpa bencana Berapa banyak bangunan dan harta benda punah tersapu.

Fakta historis menyebutkan gempa di Indonesia sudah terjadi pada sekitar 75.000 tahun lalu yaitu erupsi Danau Toba yang dianggap sebagai salah satu bencana terbesar di dunia karena debunya terbang sampai ke Srilangka. Kemudian tahun 1815 terjadi letusan Gunung Tambora mengeluarkan debu yang tebal mengakibatkan gagal panen sampai ke Eropa dan Amerika Utara. Selain itu juga peristiwa dahsyat meletusnya Gunung Krakatau tahun 1883. Gempa, angin dan gemuruh terjadi di Bulu Kumba-Sulawesi Selatan pada 29 Desember 1820 dimana 500 orang meninggal.

Peran Pemerintah dan Sistem Peringatan Dini.

Sejak peristiwa tsunami tahun 2004 Pemerintah Indonesia semakin menyadari situasi dan kompleksitas masalah bencana ini. Oleh karena itu pemerintah telah membuat berbagai kebijakan untuk mengurangi resiko bencana. Selain itu pemerintah juga menyadari terbatasnya sumber, maka pemerintah berusaha keras untuk melibatkan semua pihak, antara lain masyarakat, lembaga donor dari luar negeri, masyarakat ilmuwan serta media dalam program ini.

Namun demikian ada faktor penyebab lainnya, yaitu kerentanan masyarakat terhadap bencana. Seandainya masyarakat setempat disiapkan dan menyadari bahaya serta tindakan apa yang mereka harus lakukan dalam keadaan darurat, tentunya banyak nyawa yang dapat diselamatkan.
Dalam penanganan bencana ada 3 fase yang harus diperhatikan, yaitu kesiapan sebelum bencana, tindakan selama bencana, serta pasca bencana. Berdasarkan 3 aspek tersebut berbagai langkah-langkah pencegahan telah dilakukan oleh masing-masing instansi terkait dan dikordinasikan oleh BAKORNAS melalui program Sistem Peringatan Dini yang terdiri dari program pencegahan bencana, mitigasi bencana, kesiapsiagaan bencana, peringatan bencana, tanggap darurat dan rehabilitasi dan pemulihan serta rekonstruksi.

Menyadari masih lemahnya penanganan bencana oleh Indonesia, maka Indonesia banyak belajar dari negara lain. Bahkan beberapa negara asing juga siap membantu pemerintah Indonesia untuk penanganan bencana, seperti Jerman, Jepang, China, Amderika Serikat.

Berpijak dari pendapat tersebut, bencana alam tidak dapat dipisahkan begitu saja dari teknologi. Pada tahun 2005 Kementerian Negara Riset dan Teknologi bersama seluruh instansi terkait melaksanakan studi-studi tantang kejadian alam ini dan melakukan simulasi pertama di Sumatera Barat. Pemerintah Daerah Sumatera Barat sangat tanggap untuk melaksanakan simulasi ini, mengingat wilayahnya merupakan rawan bencana. Tahun berikutnya yaitu 26 Desember 2006 simulasi dilaksanakan di Bali dengan mengambil lokasi pantai Sanur. Simulasi ini mendapat dukungan masyarakat Bali dan juga para turis yang berada di pantai. Pada tahun 2007 simulasi dilakukan di wilayah Banten yang dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sepertinya simulasi menghadap bencana semakin dirasakan penting dan menjadi perhatian serius oleh berbagai pemerintah daerah, khususnya daerah yang terancam bencana. Pada tahun 2008 simulasi mendapat respon dari Pemerintah Daerah Gorontalo. Siap siaga bencana tidak hanya tsunami saja tetapi juga bencana lainnya. Simulasi bencana menyadarkan kita manusia untuk lebih waspada segala hal, termasuk siap siaga terhadap informasi cuaca yang dikeluarkan oleh institusi pemerintah BMG. Setelah 4 tahun peristiwa tsunami Aceh dan Nias, pemerintah tetap konsisten untuk mengajak masyarakat tetap siaga bencana dan meningkatkan partisipasinya terhadap bencana.

Dalam situasi bencana, kita dapat melihat bagaimana kepanikan masyarakat untuk mencari bantuan. Jika masyarakat telah dibekali informasi dan pengetahuan yang jelas, maka kepanikan menghadapi bencana akan lebih berkurang. Dalam hal ini peran petugas penerangan bencana/humas atau satgas dan mass media sangat penting. Misalnya kemana warga harus berlari atau mengungsi. Kemana mereka akan mendapat bantuan pangan.

Menurut Prof. Dr. Irwan Abdullah (2006) fakta bencana yang begitu dekat dengan pengalaman manusia menuntut adanya studi yang seksama untuk mempelajari sifat-sifat, penyebab, akibat, cara tanggap, dan dampaknya secara menyeluruh. Disini studi ilmu sosial khususnya antropologi sangat dibutuhkan dan dapat memberikan penjelasan yang komprehensif atas kejadian alam.

Setiap bencana alam selalu mengakibatkan penderitaan bagi masyarakat, korban jiwa dan harta benda kerap melanda masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi bencana.Kejadian bencana alam tidak dapat dicegah dan ditentukan kapan dan dimana lokasinya, akan tetapi pencegahan jatuhnya korban akibat bencana ini dapat dilakukan bila terdapat cukup pengetahuan mengenai sifat-sifat bencana tersebut. Bencana itu adalah bagian dari alam, terjadi pada waktu yang lalu dan akan terulang lagi.

Mari kita renungkan alunan lagu Ebit G Ade ”mungkin Tuhan telah bosan melihat tingkah kita yang selalu sadar dan bangga dengan dosa-dosa kita atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita”…..dst, merupakan isyarat pada semua umat manusia.

They are part of nature, have happened in the past and will happen again…

Penulis:
Tati Herlina Manurung
(Kabid Sosial dan Kemanusiaan Kementerian Negara Riset dan Teknologi)

Analisa Permasalahan Pendidikan Dasar di Indonesia

Pada tahun 1984 dicanangkan wajib belajar pendidikan dasar enam tahun,  dan setelah sepuluh tahun berjalan kembalai dicanangkan oleh pemerinta  melalui Inpres Nomor 1 Tahun 1994 ditetapkan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun. Hal ini berarti bahwa setiap anak Indonesia yang berumur 7 s/d 15 tahun diwajibkan untuk mengikuti Pendidikan Dasar 9 Tahun sampai tamat. Dan lagi harapan itu begitu besar untuk agar masyarakat Indonesia minimal sampai tamat sekolah menengah pertama. Jika secara jujur mengevaluasi program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Enam Tahun yang sudah 10 tahun dicanangkan, kita masih dapat melihat masih cukup banyak masyarakat Indonesia yang belum tamat setingkat pendidikan dasar. Permasalahan – permasalahan tersebut bukan semakin memudar, justru semakin mengkristal dan melahirkan masalah-masalah baru. Program-program baru pun muncul sebagai penunjang Wajadikdas 9 Tahun ini seperti : SMP Terbuka, SD-SMP Satu Atap, dll.

Bagaimana dengan tahun 2008 ini?. Sudah genap 14 tahun program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun di canangkan oleh pemerintah Indonesia. Kondisi-kondisi permasalahan terus membanyangi hingga saat ini, kendala-kendala dari berbagai aspek fisik maupun nonfisik masih belum dapat teratasi dengan optimal. Bahkan pemerintah menjanjikan akan tuntas pada tahun 2009, dengan melihat kondisi real dimana masih banyak masyarakat yang belum dapat meniklmati pendidikan. Sungguh ini suatu ironi, dimana di UUD 1945 dinyatakan mendapatkan pendidikan adalah suatu hak warga Negara sedangkan melalui Inpres dicanangkan wajib belajar. Sebenarnya pendidikan itu adalah hak atau kewajiban ?

Pendidikan dasar di Indonesia saat ini tengah mengalami permasalahan yang cukup komplek. Baru-baru ini Indeks Pendidikan Indonesia atau EDI (Education Development Index) menurun yang dilaporkan oleh EFA (Education for All) dan dipublikasikan pada November 2007 lalu. Posisi berada dalam kategori sedang bersama 53 negara lainnya. Dengan penilaian pada kategori angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan jender, dan angka bertahan siswa hingga kelas 5 sekolah dasar. Peringkat melorot dari 58 pada tahun sebelumnya menjadi 62, setingkat di atas kita yang tahun sebelumnya sempat berada di bawah .

Dari kategori penilaian tersebut dapat diketahui bahwa masih sedikit lebih baik di antara negara-negara se kawasan seperti, Kamboja, dan. Mungkin saja tahun ke depan dan Kamboja akan melampaui angka pencapaian Negara kita, ini ditunjukkan peningkatan total indeks pendidikan setiap tahunnya. Olehnya itu patut menjadi perhatian bahwa jatuhnya peringkat indeks dari tahun sebelumnya berarti kuantitas angka partisipasi pendidikan dasar menurun belum lagi kalau berbicara kualitas.

 

Masalah lain dalam pendidikan kita adalah tidak tersusunnya pola yang jelas dalam kurikulum pembelajaran sekolah. Kurikulum sekolah yang semestinya dijadikan acuan dalam sistem pengajaran, belum bisa diterapkan dengan semestinya di beberapa daerah. Hal ini dikarenakan oleh kurangnya fasilitas mengajar dibeberapa daerah. Ini menyebabkan kualitas lulusan sekolah-sekolah tersebut tidak dapat bersaing dengan lulusan sekolah-sekolah di kota-kota besar di Indonesia.

 

Dan yang lebih menyediakan lagi adalah masih kurangnya tenaga pengajar di daerah-daerah pelosok. Masih banyak tenaga guru yang mengajar dari kelas satu sampai kelas enam sekolah dasar. Ini dikarenakan minimnya tenaga pengajar didaerah tersebut. Seperti terjadi didaerah Batam. Terdapat  guru yang mengajar dua rombongan belajar secara bersamaan. Parahnya, dua rombongan belajar itu dididik dalam satu ruangan.

 

Penghasilan guru sekolah dasar yang rendah menjadi alasan utama bagi putra asli daerah untuk terjun sebagai tenaga pengajar. Gaji pokok seorang guru SD bergolongan II-C sampai III-B hanya Rp 200-300 ribu. Dibawah upah pekerja pabrik di Jabotabek yang berpendidikan SLTA. Memang masih ada beberapa tunjangan, tapi jelas jumlah itu tak cukup untuk menghidupi sebuah keluarga pada saat krisis ekonomi seperti sekarang.

 

(Penulis: Sigit S/ Staff Asdep IIPSK)