Analisa Permasalahan Pendidikan Dasar di Indonesia

Pada tahun 1984 dicanangkan wajib belajar pendidikan dasar enam tahun,  dan setelah sepuluh tahun berjalan kembalai dicanangkan oleh pemerinta  melalui Inpres Nomor 1 Tahun 1994 ditetapkan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun. Hal ini berarti bahwa setiap anak Indonesia yang berumur 7 s/d 15 tahun diwajibkan untuk mengikuti Pendidikan Dasar 9 Tahun sampai tamat. Dan lagi harapan itu begitu besar untuk agar masyarakat Indonesia minimal sampai tamat sekolah menengah pertama. Jika secara jujur mengevaluasi program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Enam Tahun yang sudah 10 tahun dicanangkan, kita masih dapat melihat masih cukup banyak masyarakat Indonesia yang belum tamat setingkat pendidikan dasar. Permasalahan – permasalahan tersebut bukan semakin memudar, justru semakin mengkristal dan melahirkan masalah-masalah baru. Program-program baru pun muncul sebagai penunjang Wajadikdas 9 Tahun ini seperti : SMP Terbuka, SD-SMP Satu Atap, dll.

Bagaimana dengan tahun 2008 ini?. Sudah genap 14 tahun program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun di canangkan oleh pemerintah Indonesia. Kondisi-kondisi permasalahan terus membanyangi hingga saat ini, kendala-kendala dari berbagai aspek fisik maupun nonfisik masih belum dapat teratasi dengan optimal. Bahkan pemerintah menjanjikan akan tuntas pada tahun 2009, dengan melihat kondisi real dimana masih banyak masyarakat yang belum dapat meniklmati pendidikan. Sungguh ini suatu ironi, dimana di UUD 1945 dinyatakan mendapatkan pendidikan adalah suatu hak warga Negara sedangkan melalui Inpres dicanangkan wajib belajar. Sebenarnya pendidikan itu adalah hak atau kewajiban ?

Pendidikan dasar di Indonesia saat ini tengah mengalami permasalahan yang cukup komplek. Baru-baru ini Indeks Pendidikan Indonesia atau EDI (Education Development Index) menurun yang dilaporkan oleh EFA (Education for All) dan dipublikasikan pada November 2007 lalu. Posisi berada dalam kategori sedang bersama 53 negara lainnya. Dengan penilaian pada kategori angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan jender, dan angka bertahan siswa hingga kelas 5 sekolah dasar. Peringkat melorot dari 58 pada tahun sebelumnya menjadi 62, setingkat di atas kita yang tahun sebelumnya sempat berada di bawah .

Dari kategori penilaian tersebut dapat diketahui bahwa masih sedikit lebih baik di antara negara-negara se kawasan seperti, Kamboja, dan. Mungkin saja tahun ke depan dan Kamboja akan melampaui angka pencapaian Negara kita, ini ditunjukkan peningkatan total indeks pendidikan setiap tahunnya. Olehnya itu patut menjadi perhatian bahwa jatuhnya peringkat indeks dari tahun sebelumnya berarti kuantitas angka partisipasi pendidikan dasar menurun belum lagi kalau berbicara kualitas.

 

Masalah lain dalam pendidikan kita adalah tidak tersusunnya pola yang jelas dalam kurikulum pembelajaran sekolah. Kurikulum sekolah yang semestinya dijadikan acuan dalam sistem pengajaran, belum bisa diterapkan dengan semestinya di beberapa daerah. Hal ini dikarenakan oleh kurangnya fasilitas mengajar dibeberapa daerah. Ini menyebabkan kualitas lulusan sekolah-sekolah tersebut tidak dapat bersaing dengan lulusan sekolah-sekolah di kota-kota besar di Indonesia.

 

Dan yang lebih menyediakan lagi adalah masih kurangnya tenaga pengajar di daerah-daerah pelosok. Masih banyak tenaga guru yang mengajar dari kelas satu sampai kelas enam sekolah dasar. Ini dikarenakan minimnya tenaga pengajar didaerah tersebut. Seperti terjadi didaerah Batam. Terdapat  guru yang mengajar dua rombongan belajar secara bersamaan. Parahnya, dua rombongan belajar itu dididik dalam satu ruangan.

 

Penghasilan guru sekolah dasar yang rendah menjadi alasan utama bagi putra asli daerah untuk terjun sebagai tenaga pengajar. Gaji pokok seorang guru SD bergolongan II-C sampai III-B hanya Rp 200-300 ribu. Dibawah upah pekerja pabrik di Jabotabek yang berpendidikan SLTA. Memang masih ada beberapa tunjangan, tapi jelas jumlah itu tak cukup untuk menghidupi sebuah keluarga pada saat krisis ekonomi seperti sekarang.

 

(Penulis: Sigit S/ Staff Asdep IIPSK) 

 

 

 

 

3 responses to “Analisa Permasalahan Pendidikan Dasar di Indonesia

  1. tes coment

  2. PENDIDIKAN MENURUT LANDASA FILOSOFIS , TEORI DAN YURIDIS
    Oleh : M Ihsan Dacholfany M.Ed
    (Alunus PP Baitul Arqom Jember -Jatim)

    A. PENDAHULUAN

    1. Landasa Filosofis , Teori dan Yuridis

    a. Filosofis dan Teori
    Pendidikan adalah sebagai sebuah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. Dan potensi itu dikembangkan untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian , kecerdasan, kecerdasan akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Dari definisi tersebut tersirat bahwa pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran terhadap manusia secara terus menerus, agar manusia tersebut memiliki kepribadian yang kamil (sempurna) lahir dan batin.
    Pendidikan merupakan proses pembelajaran, dan proses pembelajaran dapat terjadi setiap saat dan di segala tempat. Setiap orang, baik anak-anak maupun orang dewasa mengalami proses belajar lewat apa yang dijumpai atau apa yang dikerjakan. Secara alamiah setiap orang akan terus belajar melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungan. Pendidikan sebagai suatu sistem, pada dasarnya merupakan bagian dari sistem proses perolehan pengalaman belajar tersebut. Oleh karena itu secara filosofis pendidikan diartikan sebagai proses perolehan pengalaman belajar yang berguna bagi peserta didik. Pengalaman belajar tersebut diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik, sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik diharapkan juga mengilhami mereka ketika menghadapi problema dalam kehidupan sesungguhnya (Senge, 2000).
    David P. Ausubel (Ausubel, 1978) dan Jerome S. Bruner (Bruner, 1977), mengatakan bahwa proses pembelajaran dalam pendidikan akan menjadi lebih menarik, memberi kegairahan pada semangat belajar peserta didik, jika peserta didik melihat kegunaan, manfaat, makna dari pembelajaran guna menghadapi berbagai persoalan kehidupan yang dihadapinya saat ini bahkan di masa depan. Pembelajaran akan memberikan suasana yang menyenangkan (joyful learning) jika berkait dengan potensi, minat, hobi, bakat peserta didik dan penerimaan siswa bahwa apa yang dipelajarinya akan berguna bagi kehidupannya di masa depan, karena siswa merasa mendapatkan keterampilan yang berharga untuk menghadapi hidup.
    Proses pelaksanaan pendidikan dapat dilaksanakan baik melalui pendidikan formal, in formal maupun non formal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.Adapun jenis pendidikanya mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus.
    Seperti yang diuraikan di atas pendidikan pada dasarnya merupakan suatu upaya pengembangan sumber daya manusia ( SDM ) dan upaya tirsebut tidak hanya dapat dilakukan melalui pendidikan formal ( sekolah ), tetapi dapat dilakukan dengan upaya lain seperti melalui pendidikan in formal atau non formal. Tetapi kenyataanya sampai saat ini, pendidikan formal dipandang masayarakat sebagai sarana dan wahana utama untuk pengembangan SDM yang dilakukan dengan sistematis, programatis, dan berjenjang.
    Proses pendidikan dalam pembelajaran terjadi interaksi antara peserta didik dengan pendidik, peserta didik dengan peserta didik, peserta didik dengan lingkungan dan mungkin antara pendidik dengan pendidik. Seperti yang dikemukan oleh Corey (1986 ) dalam Syaiful Sagala (2003 : 61 ) dikatakan bahwa :
    “ Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi- kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu.”
    Selanjutnya Syaiful Sagala , menyatakan bahwa pembelajaran mempunyai dua karakteristik, yaitu :
    “ Pertama, dalam proses pembelajaran melibatkan proses berfikir. Kedua , dalam proses pembelajaran membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berfikir siswa , yang pada gilirannya kemampuan berfikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri. “ (Syaiful Sagala,2003 : 63 )
    Dari uraian diatas, proses pembelajaran yang baik dapat dilakukan oleh siswa baik di dalam maupun di luar kelas, dan dengan karakteristik yang dimiliki oleh siswa diharapkan mereka mampu berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman- temannya secara baik dan bijak.
    Dengan intensitas yang tinggi serta kontinuitas belajar secara berkesinambungan diharapkan proses interaksi sosial sesama teman dapat tercipta dengan baik dan pada gilirannya mereka saling menghargai dan menghormati satu sama lain walaupun dalam perjalanannya mereka saling berbeda pendapat yang pada akhirnya mereka saling menumbuhkan sikap demokratis antar sesama.
    Pendekatan pendidikan dalam pembelajaran saat inimengalami pergeseran dari behaviourisme ke konstruktivisme yang menuntut guru dilapangan harus mempunyai syarat dan kompetensi untuk dapat melakukan suatu perubahan dalam melaksanakan proses pembelajaran dikelas. Hal ini menuntuk guru untuk lebih kreatif, inovatif, sehingga pembelajaran tidak bersifat teacher center yaitu guru sebagai busat aktivitas pembelajaran, tetapi menempatkan peserta didik sebagai student center . Sehingga pada akhirnya bermuara pada proses pembelajaran yang menyenangkan, bergembira, dan demokratis yang menghargai setiap pendapat sehingga pada akhirnya substansi pembelajaran benar-benar dihayati (learning must be fun). Selain itu Guru dituntut untuk menciptakan suasana belajar sedemikian rupa , sehingga siswa bekerja sama secara gotong royong (cooperative learning)
    Sejalan dengan uraian di atas, pendekatan pembelajaran konstruktivisme adalah:
    “Pembelajaran dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit ) dan tidak sekonyong-konyong. Pembelajaran bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi Pembelajaran itu dan membentuk makna melalui pengalaman nyata. ( Depdiknas,2003:11)
    Untuk menciptakan pendekatan pembelajaran konstruktivismemaka guru mempunyai syarat-syarat apa yang dipenuhi , diantaranya :
    1. Guru harus lebih banyak menggunakan metode pada waktu mengajar, variasi metode mengakibatkan penyajian bahan lebih menarik perhatian siswa, mudah diterima siswa, sehingga kelas menjadi hidup, metode pelajaran yang selalu sama( monoton ) akan membosankan siswa.
    2. Menumbuhkan motivasi, hal ini sangat berperan pada kemajuan , perkembangan siswa,. Selanjutnya melalui proses belajar, bila motivasi guru tepat dan mengenai sasaran akan meningkatkan kegiatan belajar, dengan tujuan yang jelas maka siswa akan belajar lebih tekum, giat dan lebih bersemangat.(Slamet ,1987 :92 )
    Kita yakin pada saat ini banyak guru yang telah melaksanakan teori konstruktivisme dalam pembelajaran di kelas tetapi volumenya masih terbatas, karena kenyataan dilapangan kita masih banyak menjumpai guru yang dalam mengajar masih terkesan hanya melaksanakan kewajiban. Ia tidak memerlukan strategi, metode dalam mengajar, baginya yang penting bagaimana sebuah peristiwa pembelajaran dapat berlangsung.
    Disisi lain menurut Hartono Kasmadi (1993 :24) bahwa pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dimana pengajar masih memegang peran yang sangat dominan, pengajar banyak ceramah (telling method) dan kurang membantu pengembangan aktivitas murid .
    Apabila dianalisis bahwa fakta di dunia persekolahan saat ini masih banyak guru yang masih melakukan cara melakukan kegiatan pembelajarannya dengan metoda di atas., dan diakui bahwa banyak faktor penyebabnya. Dan dampaknya pada peserta didik, kita melihat dan menjumpai peserta didik belajar hanya untuk memenuhi kewajiban pula, masuk kelas tanpa persiapan, siswa merasa terkekang, membenci guru karena tidak suka gaya mengajarnya, bolos, tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru, takut berhadapan dengan mata pelajaran tertentu, merasa tersisihkan karena tidak dihargai pendapatnya, hak mereka merasa dipenjara , terkekang sehingga berdampak pada hilangnya motivasi belajar, suasana belajar menjadi monoton, dan akhirnya kualitasnya pun sudah pasti diragukan.
    Dari permasalahan yang ada , sekolah dalam hal ini kepala sekolah, guru dan stakeholders mempunyai tanggung jawab terhadap peningkatan mutu pembelajaran di sekolah terutama guru sebagai ujung tombak dilapangan (di kelas ) karena bersentuhan langsung dengan peserta didik dalam proses pembelajaran
    Guru mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sangat berat terhadap kemajuan dan peningkatan kompetensi siswa , dimana hasilnya akan terlihat dari jumlah siswa yang lulus dan tidak lulus.dengan demikian tangung jawab peningkatan mutu pendidikan di sekolah , selalu dibebankan kepada guru .lalu bagaimana kesiapan unsur-unsur tersebut dalam peningkatan mutu proses pembelajaran ?.
    Salah satu indikator kemajuan pendidikan , dapat dilihat dari sejauh mana kemampuan dan kemauan dari masyarakat untuk menangkap proses informasi dan kemajuan teknologi. Karena Proses informasi yang yang disebabkan karena kemajuan teknologi semakin membuat aktivitas kehidupan didunia semakin meluas dan sekaligus semakin mengerut. Hal ini berarti berbagai masalah kehidupan manusia menjadi masalah global atau setidak-tidaknya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kejadian dibelahan bumi yang lain, baik masalah politik, ekonomi , maupun sosial. Dan hal itu sangan erat hubungannya dengan proses pembelajaran yang terjadi di kelas.

    b. Landasan Yuridis
    Pancasila merupakan landasan dan idiologi pemerintahan Republik Indonesia, maka Pancasila merupakan landasan dan arah dari pembangunan nasional, termasuk pendidikan.
    Landasan yuridis lain yang menjadi landasan dari pendidikan nasional adalah UUD 1945 pasal 31, yang telah diamandemen menjadi 5 ayat pasal yaitu :
    (1). Setiap warga nedara berhak mendapat pendidikan
    (2). Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
    (3). Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran dan pendapatan negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan pendidikan.
    (4) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjungjung tinggi nilai-nilai agamadan persatuan bangsa untuk membangun peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
    Misi mencerdaskan bangsa yang tersirat dalam pasal 31 UUD 1945 dipertegas lagi oleh UU Sisdiknas tahun 2003.
    Sebagai landasan oprasional dari pendidikan nasional, dikeluarkan kebijakan berupa Peraturan Menetri Pendidikan Nasional (PERMEN DIKNAS), dintaranya :
    1. Permen Diknas No.22 Tahun 2006 tentang standar Isi
    2. Permen Diknas No.23 Tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan
    3. Permen Diknas No.13 Tahun 2007 tentang standar kepala sekolah
    4. Permen Diknas No.16 Tahun 2007 tentang standar kompetensi guru

    B. FAKTA

    1. Keadaan Kurikulum
    Guru Besar bidang Kurikulum Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Prof Said Hamid Hasan mengatakan, Pengembangan kurikulum pendidikan dari periode ke periode menunjukkan tiga fenomena yang menonjol dan cenderung tidak menguntungkan bagi dunia pendidikan di Tanah Air.
    1. Pengembangan setiap kurikulum terencana dengan baik hanya untuk `curriculum construction` yang menghasilkan dokumen kurikulum tetapi tidak terencana dengan baik untuk `curriculum implementation` dan `curriculum evaluation`, padahal, permasalahan implementasi kurikulum jauh lebih rumit dibandingkan masalah konstruksi kurikulum karena menyangkut banyak manusia dan komponen, katanya. Implementasi kurikulum menghendaki adanya sosialisasi yang baik, strategi pelaksanaan dan evaluasi yang terencana. Kenyataan yang ada ialah para pelaksana kurikulum di lapangan (guru dan kepala sekolah) dibiarkan mengimplementasikan kurikulum yang tidak sepenuhnya mereka fahami karena sosialisasi yang tidak baik dan dilakukan oleh para pejabat yang tidak memahami ide kurikulum yang baru. Dalam implementasi kurikulum, para pelaksana kurikulum di lapangan tidak mendapatkan bantuan profesional ketika mereka mengalami kesulitan melaksanakan kurikulum. “Strategi implementasi kurikulum kita tidak jelas dan kita tidak pernah tahu bilamana kurikulum tersebut memasuki fase implementasi penuh. Untuk memasuki fase implementasi penuh, suatu implementasi kurikulum harus diberi waktu cukup untuk memasuki fase awal dimana guru dan kepala sekolah mendapatkan bantuan professional yang cukup ketika mereka menghadapi berbagai masalah implementasi,” katanya. Biasanya waktu yang dibutuhkan untuk fase sedikitnya dua tahun dan setelah permasalahan dasar sudah tidak ditemukan maka impelementasi kurikulum memasuki fase implementasi penuh.
    2. Pengembangan kurikulum baru dalam bentuk konstruksi kurikulum tidak memiliki kesinambungan dengan kurikulum sebelumnya, katanya. Kurikulum yang sedang berlaku tidak dievaluasi untuk menentukan kelemahan dan keunggulannya serta relevansinya dengan tuntutan masyarakat. Evaluasi hanya terbatas pada evaluasi hasil belajar dan dilaksanakan tanpa peduli apakah kurikulum sudah diimplementasi dengan benar dan sepenuhnya, katanya.
    3. Pengembangan kurikulum baru dilakukan hanya memperhatikan satu aspek tuntutan yaitu karena kekertinggalan kita dalam dunia ilmu. Kurikulum baru dikembangkan ketika ada keluhan mengenai ketinggalan dalam tes matematika atau sains. Tidak pernah membahas apakah ketinggalan itu disebabkan oleh implementasi kurikulum yang tidak benar dan tidak baik, yang dipersalahkan adalah kurikulum sebagai dokumen. Kurikulum baru tidak pernah memperhitungkan dimensi lain dalam kehidupan masyarakat seperti kondisi sosial yang parah, mental bangsa yang perlu dikembangkan ke arah yang sesuai dengan kehidupan 10 atau 15 tahun mendatang, budaya yang terperosok pada kehidupan material yang tidak menguntungkan, sikap menerabas untuk keuntungan material dan posisi, semangat membangun bangsa, dan kehidupan religius yang positif. Perubahan ketatanegaraan yang memberikan wewenang kepada pemerintah daerah dalam mengembangkan dan mengelola pendidikan tidak juga menjadi kepedulian kurikulum. Sudah lama kurikulum kita diarahkan untuk menjawab satu masalah bangsa dan bukan dalam berbagai dimensi kehidupan. Oleh karena itu siklus 10 tahunan untuk perubahan kurikulum sudah merupakan suatu ajaran.
    2. Fakta Kepala Sekolah
    Kasus yang ditemukan di lapangan dengan kondisi Kepala Sekolah saat ini diantaranya : 1).Pada Umumnya Kepala sekolah tidak memahami Visi dan misi yang jelas. 2).Rekrutmen Kepala sekolah tidak proporsional.3).Pekerjaan kepala sekolah hanya sebagai (the habitition) tidak visioner.4) Money Oriented.5).Tidak dapat menempatkan : “ELAMASE”.6).Motivasi berkreatif dan berinovatif yang lemah
    3. Fakta Guru
    Fakta di lapangan , keberadaan guru saat ini diantaranya :
    1).Tidak memahami karakteristik peserta didik dari aspek fisik,moral, spiritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual.2).Tidak menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajar-an yang mendidik. 3).Tidak mampu mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. 4). Tidak memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran.5).Tidak memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.6).Tidak memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.7).Tidak melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran..8).Pemerataan penempatan tugas guru
    4. Fakta Peserta Didik
    Keberadaan siswa pada saat ini, ditemukan kondisinya : 1).Motivasi belajar siswa kurang.2).Orientasi memasuki sekolah tidak jelas.3).Sekolah hanya sebagai tempat untuk mendapatkan izajah belaka (legalisasi).4).Pengaruh lingkungan keluarga sangat dominan.3).Pengaruh teknologi informasi.6). Latar belakang pendidikan orang tua.7). Sekolah / kelas dianggap sebagai penjara

    C.SOLUSI

    1. Peningkatan Kualitas Pendidikan
    Banyak ahli yang mengemukakan tentang mutu atau kualitas, seperti yang dikemukakan oleh Edward Sallis (2006 : 33 ) mutu adalah Sebuah filsosofis dan metodologis yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan. Sudarwan Danim (2007 : 53 ) mutu mengandung makna derajat keunggulan suatu poduk atau hasil kerja, baik berupa barang dan jasa. Dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991 :677 ) menyatakan Mutu adalah ukuran , baik buruk suatu benda, taraf atau derajat . Selanjutnya Lalu Sumayang ( 2003 : 322) menyatakan quality (mutu ) adalah tingkat dimana rancangan spesifikasi sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan fungsi dan penggunannya, disamping itu quality adalah tingkat di mana sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan rancangan spesifikasinya.
    Apabila pandangan para ahli dia atas di identifikasikan ke dalam qualitas pendidikan, dalam pandangan Zamroni ( 2007 : 2 ) dikatakan bahwa peningkatan mutu sekolah adalah suatu proses yang sistematis yang terus menerus meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan itu, dengan tujuan agar target sekolah dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien.
    Peningkatan mutu berkaitan dengan target yang harus dicapai, proses untuk mencapai dan faktor-faktor yang terkait. Dalam peningkatan mutu ada dua aspek yang perlu mendapat perhatian, yakni aspek kualitas hasil dan aspek proses mencapai hasil tersebut.
    Edward Sallis ( 2006 :73 ) menyatakan bahwa Total Quality Management (TQM) Pendidikan adalah sebuah filsosofis tentang perbaikan secara terus- menerus , yang dapat memberikan seperangkat alat praktis kepada setiap institusi pendidikan dalam memenuhi kebutuhan , keinginan , dan harapan para pelanggannya saat ini dan untuk masa yang akan datang
    Di sisi lain, Zamroni memandang bahwa peningkatan mutu dengan model TQM , dimana sekolah menekankan pada peran kultur sekolah dalam kerangka model The Total Quality Management (TQM). Teori ini menjelaskan bahwa mutu sekolah mencakup tiga kemampuan, yaitu : kemampuan akademik, sosial, dan moral. (Zamroni , 2007 :6 )
    Menurut teori ini, mutu sekolah ditentukan oleh tiga variabel, yakni kultur sekolah, proses belajar mengajar, dan realitas sekolah. Kultur sekolah merupakan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, upacara-upacara, slogan-slogan, dan berbagai perilaku yang telah lama terbentuk di sekolah dan diteruskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya, baik secara sadar maupun tidak. Kultur ini diyakini mempengaruhi perilaku seluruh komponen sekolah, yaitu : guru, kepala sekolah, staf administrasi, siswa, dan juga orang tua siswa. Kultur yang kondusif bagi peningkatan mutu akan mendorong perilaku warga kearah peningkatan mutu sekolah, sebaliknya kultur yang tidak kondusif akan menghambat upaya menuju peningkatan mutu sekolah.
    2. Input, Proses dan Output Pendidikan
    Pengertian mutu dalam pendidikan mencakup input, proses, dan output . Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses yang berupa sumber daya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses. Input sumber daya meliputi sumber daya manusia diantaranya tenaga kependidikan, pendidik dan peserta didik diantaranya kepala sekolah, guru termasuk guru BP, tenaga tata usaha . Dan sumber daya lain berupa sarana prasarana berupa peralatan, perlengkapan, uang, bahan, dsb). Input perangkat lunak meliputi struktur organisasi sekolah, peraturan perundang-undangan, deskripsi tugas, rencana, program, dsb. Input harapan-harapan berupa visi, misi, tujuan, dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, tinggi rendahnya mutu input dapat diukur dari tingkat kesiapan input. Makin tinggi tingkat kesiapan input, makin tinggi pula mutu input tersebut.
    Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Dalam pendidikan berskala mikro (tingkat sekolah), proses yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajar mengajar, dan monitoring dan evaluasi, dengan catatan bahwa proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan proses-proses lainya. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input sekolah (guru, siswa, kurikulum, uang, peralatan, dsb.) dilakukan secara harmonis, sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan, mampu mendorong motivasi dan minat belajar, dan benar-benar mampu memberdayakan peserta didik. Memberdayakan mengandung arti bahwa peserta didik tidak sekedar menguasai pengetahuan yang diajarkan oleh guru, akan tetapi pengetahuan tersebut juga telah menjadi muatan nurani peserta didik, dihayati, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, dan yang lebih penting peserta didik mampu belajar cara belajar (mampu mengembangkan dirinya).
    Output pendidikan adalah merupakan kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya, efektifitasnya, produktivitasnya, efisiensinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerjanya, dan moral kerjanya. Khusus yang berkaitan dengan mutu output sekolah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi sekolah, khususnya prestasi siswa, menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam prestasi akademik, berupa nilai ulangan umum, UN, karya ilmiah, lomba-lomba akademik; dan prestasi non-akademik, seperti misalnya IMTAQ, kejujuran, kesopanan, olahraga, kesenian, keterampilan kejujuran, dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikulir lainnya.

    Jadi kalau ketiga hal tersebut di atas telah dicapai maka mutu pendidikan masa depan yang lebih baik akan terwujud sehingga masa depan Indonesia tanpa korupsi bukan lagi menjadi suatu mimpi di musim panas karena disadari atau tidak korupsi yang dilakukan anak-anak bangsa telah menghambat terwujudnya kesejahteraan yang didamba sesuai dengan cita-cita dan tujuan nasional Negara Indonesia.

    2. Faktor-Faktor Dominan dalam Peningkatan Mutu Pembelajaran di Sekolah
    Selanjutnya untuk meningkatkan mutu sekolah seperti yang disarankan oleh Sudarwan Danim ( 2007 : 56 ), yaitu dengan melibatkan lima faktor yang dominan :
    1. Kepemimpinan Kepala sekolah; kepala sekolah harus memiliki dan memahami visi kerja secara jelas, mampu dan mau bekerja keras, mempunyai dorongan kerja yang tinggi, tekun dan tabah dalam bekerja, memberikanlayananyang optimal, dan disiplin kerja yang kuat.
    2. Siswa; pendekatan yang harus dilakukan adalah “anak sebagai pusat “ sehingga kompetensi dan kemampuan siswa dapat digali sehingga sekolah dapat menginventarisir kekuatan yang ada pada siswa .
    3. Guru; pelibatan guru secara maksimal , dengan meningkatkan kopmetensi dan profesi kerja guru dalam kegiatan seminar, MGMP, lokakarya serta pelatihan sehingga hasil dari kegiatan tersebut diterapkan disekolah.
    4. Kurikulum; sdanya kurikulum yang ajeg / tetap tetapi dinamis , dapat memungkinkan dan memudahkan standar mutu yang diharapkan sehingga goals (tujuan ) dapat dicapai secara maksimal;
    5. Jaringan Kerjasama; jaringan kerjasama tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah dan masyarakat semata (ornag tua dan masyarakat ) tetapi dengan organisasi lain, seperti perusahaan / instansi sehingga output dari sekolah dapat terserap didalam dunia kerja
    Berdasarkan pendapat diatas, perubahan paradigma harus dilakukan secara bersama-sama antara pimpinan dan karyawan sehingga mereka mempunyai langkah dan strategi yang sama yaitu menciptakan mutu dilingkungan kerja khususnya lingkungan kerja pendidikan. Pimpinan dan karyawan harus menjadi satu tim yang utuh (teamwork ) yangn saling membutuhkan dan saling mengisi kekurangan yang ada sehingga target ( goals) akan tercipta dengan baik
    3. Unsur-unsur yang terlibat dalam Peningkatan Mutu Pembelajaran di sekolah
    Unsur yang terlibat dalam peningkatan mutu pendidikan dapat lihat dari sudut pandang makro dan mikro pendidikan. Sudut pandang makro dan mikro pendidikan dapat dilihat dari bagan berikut

    Sumber: Syaiful Sagala (2004 : 9)
    4. Strategi Peningkatan Mutu Pembelajaran di Sekolah
    Secara umum untuk meingkatkan mutu pendidikan harus diawali dengan strategi peningkatan pemerataan pendidikan, dimana unsure makro dan mikro pendidikan ikut terlibat, untuk menciptakan (Equality dan Equity ) , mengutip pendapat Indra Djati Sidi ( 2001 : 73 ) bahwa pemerataan pendidikan harus mengambil langkah sebagai berikut :
    1. Pemerintah menanggung biaya minimum pendidikan yang diperlukan anak usia sekolah baik negeri maupun swasta yang diberikan secara individual kepada siswa.
    2. Optimalisasi sumber daya pendidikan yang sudah tersedia.
    3. Memberdayakan sekolah-sekolah swasta melalui bantuan dan subsidi dalam rangka peningkatan mutu embelajaran siswa dan optimalisasi daya tampung yang tersedia.
    4. Melanjutkan pembangunan Unit Sekolah Baru (USB ) dan Ruang Kelas Baru (RKB ) bagi daerah-daerah yang membutuhkan dengan memperhatikan peta pendidiakn di tiap –tiap daerah sehingga tidak mengggangu keberadaan sekolah swasta.
    5. Memberikan perhatian khusus bagi anak usia sekolah dari keluarga miskin, masyarakat terpencil, masyarakat terisolasi, dan daerah kumuh.
    6. Meningkatkan partisipasi anggota masyarakat dan pemerintah daerah untuk ikut serta mengangani penuntansan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.
    Sedangkan peningkatan mutu sekolah secara umum dapat diambil satu strategi dengan membangun Akuntabilitas pendidikan dengan pola kepemimpinan , seperti kepemimpinan sekolah Kaizen ( Sudarwan Danim, 2007 : 225 ) yang menyarankan :
    1. Untuk memperkuat tim-tim sebagai bahan pembangun yang fundamental dalam struktur perusahaan.
    2. Menggabungkan aspek –aspek positif individual dengan berbagai manfaat dari konsumen
    3. Berfokus pada detaiol dalam mengimplementasikan gambaran besar tentang perusahaan
    4. Menerima tanggung jawab pribadi untuk selalu mengidentifikasikan akar menyebab masalah
    5. Membangun hubungan antarpribadi yang kuat
    6. Menjaga agar pemikiran tetap terbuka terhadap kritik dan nasihat yang konstruktif
    7. Memelihara sikap yang progresif dan berpandangan ke masa depan
    8. Bangga dan menghargai prestasi kerja
    9. Bersedia menerima tanggung jawab dan mengikuti pelatihan
    10. Menantang kebijakan yang sudah diterima serta dukungan inovasi dan kreativitas
    6. Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa
    Ada dua macam motivasi, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ektrinsik. Motivasi Intrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. Sedangkan motivasi ekkstrinsik adalah motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
    Siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, menunjukan memiliki motivasi intrinik yang tinggi. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.
    Berbeda dengan siswa yang tidak memiliki motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau belajar.
    Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
    1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik pada permulaan mengajar seharusnya sehingga makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
    2. Hadiah Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
    3. Saingan/kompetisi Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
    4. Pujian Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
    5. Hukuman Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
    6. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
    Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.
    7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik
    8. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
    9. Menggunakan metode yang bervariasi, dan
    10. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran

    D. Penutup.
    Kepemimpinan kepala sekolah dan kreatifitas guru yang professional, inovatif, kreatif, mrupakan salah satu tolok ukur dalam Peningkatan mutu pembelajaran di sekolah ,karena kedua elemen ini merupakan figure yang bersentuhan langsung dengan proses pembelajaran , kedua elemen ini merupakan fugur sentral yang dapat memberikan kepercayaan kepada masyarakat (orang tua ) siswa , kepuasan masyarakat akan terlihat dari output dan outcome yang dilakukan pada setiap periode. Jika pelayanan yang baik kepada masyarakat maka mereka tidak akan secara sadar dan secara otomatis akan membantu segala kebutuhan yang di inginkan oleh pihak sekolah,sehingga dengan demikian maka tidak akan sulit bagi pihak sekolah untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan di sekolah.

  3. FAKTA PENDIDIKAN NONFORMAL
    DAN INFORMAL
    Oleh
    M. Ihsan Dacholfany & Arman Abdul Rohman & Triyono

    DAFTAR ISI

    Bab. I. PENDAHULUAN………………………………………………..………. 1.
    Bab II. ………………………………………………………………………..…….2.
    A. Pendidikan Informal …………………………………………………..…2.
    B. Pendidikan Nonformal ……………………………………………………5.
    Bab III. …………………………………………………………………………………..12.
    A. Kesimpulan………………………………………………………………………12.
    B. Rekomendasi ………………………………………………………….…13.

    C. FAKTA PENDIDIKAN NONFORMAL
    DAN INFORMAL

    Bab I. PENDAHULUAN
    Pendidikan nasional mengisyaratkan adanya keterpaduan antara pendidikan formal, non formal dan informal. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ketiganya saling melengkapi dan mengisi, sehingga menghasilkan kualitas anak didik yang tinggi dan memiliki karakter yang kuat, dan berguna bagi bangsa dan masyarakat banyak.
    Pembahasan berikut ini akan difokuskan pada fakta-fakta mikro yang terjadi dalam pendidikan Nonformal dan informal. Fakta-fakta tersebut terjadi dalam lingkup keluarga, institusi penyelenggara pendidikan informal, atau organisasi kecil penyelenggara kegiatan pendidikan non formal.
    Khusus untuk fakta pendidikan informal, diperoleh dengan melakukan survey kecil pada beberapa orang, dengan harapan memperoleh gambaran riil yang terjadi dalam lingkup pendidikan keluarga. Survey sederhana tersebut bisa menjadi bahan untuk survey yang lebih detail atau sebagai bahan diskusi untuk menjadi bahan pemikiran berbagai pihak.
    Sedangkan untuk pendidikan nonformal akan difokuskan pada contoh penyelenggaraan “pemberdayaan Petani yang ada di sekitar hutan Cianjur”. Harapan dari pembahasan ini adalah untuk memperoleh gambaran riil pendidikan nonformal yang sering diselenggarakan untuk orang dewasa. Dari fakta yang ditemukan bisa menjadi acuan untuk berbagai pelatihan yang juga diselenggarakan untuk orang dewasa.

    BAB. II.
    FAKTA PENDIDIKAN INFORMAL DAN NONFORMAL

    A. PENDIDIKAN INFORMAL
    Berikut ini ada hasil survey singkat yang dilakukan penulis kepada 10 orang karyawan (di antaranya lima orang perempuan) di suatu kantor di Kota Bandung. Survey dilakukan pada tanggal 5 Januari 2009, dengan menggunakan questioner dan diskusi singkat (FGD). Survey ini. Hasil survey ini dilakukan kepada karyawan yang memiliki anak di rumahnya.
    Dari tabel A.1 di bawah ini, terlihat jelas bahwa waktu pendampingan anak lebih sering dilakukan oleh Ibu, daripada Bapak. Ibu bisa melakukan pendampingan minimal 2 jam sehari. Bentuk pendidikan yang sering dilakukan berupa diskusi dan pendampingan anak pada saat belajar.
    Hambatan utama yang sering dihadapi orang tua dalam pendidikan anak adalah 1). Susahnya ketemu anak (40%), besarnya pengaruh negatif dari luar (40%), dan kurangnya anggaran untuk membantu anak belajar (membeli buku) 20%.
    A.2. Tabel hasil Survey Pendidikan Informal
    (N=10 orang, 5 laki-laki dan 5 orang perempuan)
    NO ITEM PERTANYAAN HASIL SURVEY
    1 Waktu yang digunakan bapak untuk mendampingi anaknya belajar 100% Jarang 2-4 Jam/minggu)
    2 Waktu yang digunakan Ibu untuk mendampingi anaknya belajar 100% Sering (Setiap Hari, @ 2 jam)
    3 Bentuk pendidikan keluarga 70% Diskusi, mendampingi belajar
    4 Hambatan dalam mendidik anak

    40% Susah bertemu anak
    40% Besarnya pengaruh negatif dari luar
    20% Kesulitan anggaran (dana)
    5 Berapa jam anak menonton TV 60% 3-4 jam
    40% > 4 jam
    6 Pendampingan saat anak menonton TV

    80% Jarang mendampingi anak
    20% Sering mendampingi anak
    7 Pengaruh TV untuk perkembangan anak 60% Lebih banyak negatifnya
    40% Positif dan negatifnya seimbang
    8 Menutup TV di rumah 100% tidak bisa menutup TV
    9 Berapa jam anak mengaji 60% 0-1 jam
    40% 1-2 jam
    10 Siapa yang mengajar ngaji anak 20% Panggil guru mengaji
    80% Mengaji di mesjid/madrasah
    11 Pendidikan keluarga seberapa penting 100% Sama pentingnya dengan pendidikan Formal

    Rata-rata lama anak menonton TV adalah 3-4 jam (60%) dan lebih dari 4 jam (40%). Mereka merasakan bahwa menonton TV lebih banyak pengaruh negatifnya (60%) dari pada positifnya (40%). Tetapi semua orang tua masih tetap memasang TV di rumahnya. Yang lebih berbahaya adalah 80% orang tua jarang sekali mendampingi anak menonton TV, sehingga pengaruh negatif TV akan lebih besar. Dalam diskusi bebas, Bapak-bapak menyatakan kesulitan untuk menutup TV, karena anak dan istri suka sekali dengan acara sinetron, yang biasanya menghabiskan waktu berjam-jam. Acara sinetron biasanya muncul pada saat jam untuk mengaji, sembahyang atau belajar.
    Lama anak mengaji rata-rata 1 jam, baik mengaji di madrasah (mesjid) atau mengaji di rumah. Ini terlihat jauh sekali dibanding dengan waktu anak untuk menonton TV (4-5 Jam). Hanya 2 orang dari 10 orang yang diwawancara, mereka mengundang guru ngaji ke rumahnya. Sisanya, anak-anak mereka mengaji di madrasah atau mesjid. Hanya 1 orang dari 10 orang yang suka mengontrol hasil mengaji anak.
    Hal yang sangat menarik, adalah mereka menganggap pendidikan informal (pendidikan keluarga) sama pentingnya dengan pendidikan Formal, tetapi sekaligus menyatakan kesulitannya dalam melakukan pendampingan anak. Kesulitan itu karena waktu yang sempit, karena harus bekerja, atau anak sudah mulai besar dan memiliki kegiatan sendiri-sendiri. Akibatnya, 8 orang menyatakan bahwa memiliki kesulitan ketika berdiskusi dengan anak dan anak lebih suka meniru perilaku yang ada di TV atau di luar rumah, ketimbang meniru dan mengikuti saran orang tua.
    Ketika penulis menanyakan mengapa pendidikan formal penting?, mereka masih sangat percaya bahwa dengan pendidikan formal anak-anak bisa mencari kerja dengan lebih mudah, walaupun kenyataanya pada saat ini tidak mudah. Mereka masih menganggap Ijazah merupakan hal yang sangat penting untuk mencari kerja. Ini sangat sesuai dengan data yang dikemukakan oleh Dr. Hari, bahwa semakin tinggi pendidikan anak, semakin kurang kemandirian anak dalam mencari kerja. Dari grafik tersebut terlihat bahwa kecenderungan anak didik adalah untuk menjadi karyawan atau pekerja dari suatu perusahaan, bukan untuk mandiri dan membuka lowongan kerja bagi banyak orang.

    B. PENDIDIKAN NOFORMAL
    Dalam undang-undang No. 20 tahun 2003, pasal 26, dijelaskan bahwa pendidikan nonformal adalah pendidikan yang ditujukan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan, sikap dan keterampilan.
    Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik (Ayat 3).
    Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis (Ayat 4).
    Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (Ayat 5).
    Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan (Ayat 6).
    Pada pembahasan bab ini akan mengambil contoh: “Pelatihan Rehabilitasi Lahan di Kabupaten Cianjur”;
    Kegiatan pelatihan ini dilakukan di Kabupaten Cianjur bagian utara. Tepatnya kegiatan ini dilakukan di bagian hulu tangkapan air Sungai Cikundul dan Cilaku. Kegiatan ini dilakukan bersama-sama oleh ESP-USAID bersama-sama dengan Dinas Kehutanan Kabupaten Cianjur. Beberapa orang petani (2 orang per desa) dilatih melalui kegiatan TOT (training of Trainer) untuk menjadi pelatih Sekolah Lapangan di masing-masing desa. Pelatihan di setiap desa minimal melibatkan 20-25 orang petani. Kegiatan pelatihan ini diselenggarakan di 25 desa lingkup 5 Kecamatan, di Kabupaten Cianjur. Pemilihan lokasi ditentukan berdasarkan tingkat kritisnya daerah tersebut, yang ditandai dengan luasnya lahan gundul.
    Pada kegiatan ini petani belajar tentang alam, unsur-unsur alam dan keterkaitannya dengan penyediaan air yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat di sana. Hasil dari proses pelatihan tersebut, adalah adanya gerakan petani untuk menanam pohon di bagian hulu sungai dan mata air yang menjadi daerah tangkapan air.
    Ada beberapa fakta yang dijumpai di lapangan selama penyelenggaraan pelatihan rehabilitasi lahan tersebut:
    1. Pelatihan yang dilakukan di lapangan langsung (tidak di dalam kelas) memberikan nuansa yang lebih menarik buat para petani. Petani belajar praktek langsung di lapangan. Kondisi lapangan sangat mendukung untuk kegiatan belajar-mengajar. Petani bisa mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya langsung di lapangan. Untuk trainer kondisi ini juga sangat memudahkan untuk memfasilitasi proses belajar, semua bahan dan alat belajar semua ada di lapangan. Lapangan adalah laboratorium besar bagi proses belajar-mengajar para petani.
    2. Kontrak belajar adalah proses penyusunan kesepakatan antara semua warga belajar dengan fasilitator, tentang : tujuan belajar, waktu belajar, tempat belajar, pelaksanaan proses belajar, pengorganisasian keperluan kelompok, hasil belajar dan metode evaluasi yang akan dilaksanakan. Para petani mulai belajar mengungkapkan keperluan, harapan, kekuatiran dan keterbatasannya terhadap proses pelatihan tersebut. Fasilitator bersama-sama dengan peserta merumuskan hal tersebut jauh sebelum proses belajar dilakukan. Jika kontrak belajar ini dilewatkan maka harapan petani tidak akan terakomodir, dan kehadiran peserta akan menurun.
    3. Siklus belajar
    Siklus belajar adalah siklus yang harus dilalui dalam melakukan proses belajar-mengajar. Siklus belajar tersebut adalah: mengamati, mengutarakan, menganalisa, menyimpulkan, dan mengevaluasi. Siklus tersebut bisa digambarkan dengan bagan sebagai berikut:

    Melalui siklus belajar ini petani lebih cepat memahami berbagai kegiatan di lapangan, yang ditandai dengan :
     Petani mampu dan paham membuat persemaian pepohonan dan kayu-kayuan sendiri
     Petani mampu menanam berbagai jenis tanaman dengan baik, walaupun di musim kemarau.
     Ada gerakan tanam yang dilakukan oleh para petani bersama-sama.

    4. Petani Pemandu Lokal
    Petani pemandu lokal adalah fasilitator lokal yang berasal dari komunitas dimana pelatihan itu dilakukan. Fasilitator tersebut sebelumnya dilatih melalui kegiatan TOT (training of trainer) untuk meningkatkan kemampuan memandu dan memfasilitasi kelompok masyarakat di desanya masing-masing.
    Faktanya dengan menggunakan fasilitator lokal, proses belajar jauh lebih lancar dibanding dengan menggunakan fasiitator dari luar. Fasilitator lebih mengetahui apa yang paling dibutuhkan dalam proses pelatihan tersebut. Fasilitator lokal lebih memahami bahasa tubuh para petani di lokasinya masing-masing, sehingga proses belajar lebih mendekati harapan petani. Peserta lebih bebas mengemukakan pendapat dan idenya selama proses belajar.

    5. Bahasa Lokal.
    Adanya fasilitaor lokal yang berasal dari desanya masing-masing, mempermudah dalam komunikasi antara peserta dengan fasilitator. Bahasa yang digunakan selama proses belajar adalah bahasa campuran Indonesia dan bahasa sunda.
    Faktanya, penggunaan bahasa lokal lebih mempermudah proses belajar yang dilakukan para petani di lapangan.
    6. Belajar dari pengalaman
    Dalam kehidupan sehari-hari para petani memiliki berbagai pengalaman yang memecahkan permasalahan. Hal yang menjadi masalah, pengalaman beberapa petani sering tidak terkomunikasikan dengan petani lainnya, sehingga proses belajar dengan menggunakan belajar dari pengalaman menjadi berguna sekali dalam proses belajar-mengajar. Pengalaman tersebut bisa berupa pengalaman keberhasilan atau pengalaman kegagalan. Proses belajar bisa didasarkan dari kedua jenis pengalaman tersebut. Proses belajar tersebut sering juga kita sebut dengan “action research”.
    7. Evaluasi Partisipatoris
    Dengan menggunakan indikator yang telah disepakati di awal kegiatan, para petani peserta belajar, terlibat penuh dalam proses evaluasi. Faktanya, peserta memahami sekali hambatan yang di hadapi di lapangan. Evaluasi diri sendiri lebih diterima oleh masyarakat, dari pada evaluasi eksternal.

    HAMBATAN.
    1. Dukungan dari dinas-dinas terkait. Setiap dinas yang ada di level Kabupaten umumnya memiliki program yang terpisah-pisah, belum terpadu. Setiap dinas memiliki pendekatan yang berbeda-beda, sehingga proses belajar yang sudah diterapkan menjadi lemah. Sebagai contoh, pendekatan horizontal dan bottom up dalam merencanakan program, tiba-tiba datang program dari dinas dengan pendekatan top down dengan membawa dana sendiri, sehingga kemandirian yang dibangun menjadi lemah.
    2. Kemampuan dasar dari fasilitator lokal, umumnya beragam dan masih rendah, rata-rata lulusan SD atau SMP, sehingga memerlukan kadar TOT yang lebih kuat.
    3. Masyarakat masih menekankan pada pencapaian Ijazah dan sertifikat, dari pada penguasaan anak didik terhadap ilmu tertentu, sehingga kurang memperhatikan pentingnya pendidikan nonformal dan informal.

    BAB III.
    KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

    A. KESIMPULAN
    1. Pendidikan informal, pendidikan Nonformal dan pendidikan formal merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi.
    2. Dalam pendidikan informal, ibu lebih sering mendampingi anak dibanding bapak.
    3. Hasil survey menunjukan bahwa TV lebih banyak berpengaruh negatif daripada positif. Para orang tua jarang sekali mendampingi anaknya ketika menonton TV.
    4. Waktu untuk menonton TV lebih banyak dibanding waktu untuk mengaji atau belajar bersama orang tua, sehingga anak lebih banyak meniru apa yang ada di TV dibanding dengan hal yang disarankan orang tua atau guru mengaji.
    5. Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, pendidikan nonformal berupa pelatihan rehabilitasi lahan memiliki fakta sebagai berikut :
     Lokasi pelatihan di lapangan lebih menarik bagi para peserta, dibanding pelatihan di dalam ruangan (kelas).
     Kontrak belajar sangat diperlukan untuk menjamin bahwa proses belajar sesuai dengan harapan peserta.
     Proses belajar melalui “siklus belajar” lebih mempermudah para peserta untuk mengingat dan memahami apa yang sedang di bahas.
     Penggunaan bahasa lokal dalam proses belajar lebih memudahkan petani dalam berkomunikasi dan belajar.
     Petani memiliki banyak pengalaman, sehingga metode belajar yang cocok bagi orang dewasa (para petani ) adalah metode belajar dari pengalaman.
     Banyak dijumpai tantangan untuk mengurangi pengaruh negatif pada proses belajar atau pelatihan.

    B. REKOMENDASI.
    1. Untuk para pembuat kurikulum pendidikan, perlu memadukan ketiga jalur pendidikan : formal, nonformal dan informal.
    2. Untuk para orang tua, perlu upaya untuk mengurangi pengaruh negatif dari menonton TV dan perlu meninjau ulang tentang tata waktu kegiatan anak di dalam lingkungan rumah tangga.
    3. Dalam pelaksanaan pendidikan nonformal, diperlukan kesamaan pendekatan oleh para dinas atau instansi penyelenggara pendidikan nonformal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s